Minggu, 15 Mei 2011

meningeal sign

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perawat masa kini dituntut untuk memberikan pelayanan kesehatan / keperawatan yang bermutu tinggi kepada masyarakat. Hal ini dapat diwujudkan bila perawat mampu menggunakan metode pendekatan pemecahan masalah ( problem solving approach ), menerapkan hasil penelitian/pengetahuan terbaik ( evidence based practice ), bekerja dengan baik bersama tim kesehatan, serta melakukan pengkajian kemampuan diri / refleksi untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari aspek profesional yang harus dikuasai.

Pemeriksaan fisik dalam keperawatan digunakan untuk mendapatkan data objektif dari riwayat keperawatan klien. Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan bersamaan dengan wawancara. Fokus pengkajian fisik keperawatan adalah pada kemampuan fungsional klien. Misalnya , klien mengalami gangguan sistem muskuloskeletal, maka perawat mengkaji apakah gangguan tersebut mempengaruhi klien dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari atau tidak. Tujuan dari pemeriksaan fisik dalam keperawatan adalah untuk menentukan status kesehatan klien, mengidentifikasi masalah klien dan mengambil data dasar untuk menentukan rencana tindakan keperawatan.

Dalam Pengkajian fisik keperawatan pada prinsipnya menggunakan cara-cara yang sama dengan pengkajian fisik kedokteran, yaitu inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi. Pengkajian fisik keparawatan pada dasarnya dikembangkan berdasarkan model keperawatan yang terfokus pada respons pasien terhadap adanya masalah kesehatan atau dengan kata lain pengkajian fisik keperawatan harus mencerminkan diagnosis fisik yang secara umum perawat dapat membuat perencanaan tindakan untuk mengatasinya. Dalam integrated care pathway, batasan ini sering menjadi tidak kelas sehingga membutuhkan kesepakatan untuk menghindari pengulangan yang tidak perlu. Para perawat spesialis di beberapa negara maju juga dituntut tidak hanya mampu memformulasikan masalah keperawatan, tetapi juga masalah kesehatan yang lebih kompleks termasuk masalah yang hanya dapat diselesaikan secara kolaboratif, mendeteksi kemungkinan komplikasi, dan merencanakan terapi. Hal ini membuat lingkup pengkajian keperawatan menjadi lebih luas.

B. Masalah

Dengan latar belakang yang telah dijelaskan. Maka, masalah yang akan dibahas yaitu Pemeriksaan Fisik yang Khusus pada Pemeriksaan Tanda Kernig pada rangsangan selaput otak (meningeal sign).

C. Tujuan

1. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami tentang Tanda Kernig pada rangsangan selaput otak (meningeal sign).

2. Mahasiswa dapat mengetahui manfaat dari tentang Tanda Kernig pada rangsangan selaput otak (meningeal sign).

3. Mahasiswa dapat melakukan tindakan tentang Tanda Kernig pada rangsangan selaput otak (meningeal sign) secara mandiri.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Derinisi

Meningeal adalah tanda-tanda adanya perangsangan selaput otak. Terjadi oleh karena infeksi (meningitis), zat kimia (bahan kontras), darah (perdarahan subarachnoid / SAH), atau invasi neoplasma (meningitis carcinomatosa). Yang perlu di perhatikan pada pemeriksaan ini adalah timbulnya gejala yang disebut “meningismus” dimana pada pemeriksaan fisik di dapatkan kekakuan leher tetapi tidak ada proses patologis di daerah selaput otak.

B. Macam-macam Pemeriksaan Meningen dan Langkah-langkahnya

Pemeriksaan meningen atau meningeal sign terdiri dari :

1. Kaku Kuduk

merupakan kaku pada saat flesi buka kaku saat ekstensi atau rotasi. Kaki kuduk positif bila terdapat tahanan saat fleksi kepala atau dagu tidak dapat menyentuh dada karena tahanan tersebut. Pemeriksaan Meningeal sign yang paling peka yaitu pemeriksaan kaku kuduk. Ketika melakukan pemeriksaan kaku kuduk bisa dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan Brudzinski I caranya adalah:

a) Pasien tidur terlentang pada alas yang datar tanpa bantal

b) Pemeriksa berdiri di kanan penderita

c) Tangan kiri pemeriksa dibawah kepala, tangan kanan di atas dada agar tidak terangkat

d) Ayunkan kepala kepala pasien kekiri kekanan untuk memastikan supaya leher benar-benar relaksasi.

e) Kemudian fleksikan leher sampai menyentuh dagu.

2. Kernig

Pada pemeriksaan ini langkahlangkahnya sebagai berikut :

a) Minta pasien untuk tidur terlentang

b) Fleksikan sendi panggul tegak lurus (90°)dengan tubuh, tungkai atas dan bawah pada posisi tegak lurus pula.

c) Setelah itu tungkai bawah diekstensikan pada persendian lutut sampai membentuk sudut lebih dari 135° terhadap paha.

d) Bila teradapat tahanan dan rasa nyeri sebelum atau kurang dari sudut 135°, karena nyeri atau spasme otot hamstring / nyeri sepanjang N.Ischiadicus, sehingga panggul ikut flesi dan juga bila terjadi fleksi involuter pada lutut kontralateral maka dikatakan Kernig sign positif.

3. Brudzinski I (Brudzinski’s neck sign)

Pasien berbaring dalam sikap terlentang, dengan tangan yang ditempatkan dibawah kepala pasien yang sedang berbaring , tangan pemeriksa yang satu lagi sebaiknya ditempatkan didada pasien untuk mencegah diangkatnya badan kemudian kepala pasien difleksikan sehingga dagu menyentuh dada. Test ini adalah positif bila gerakan fleksi kepala disusul dengan gerakan fleksi di sendi lutut dan panggul kedua tungkai secara reflektorik.

4. Brudzinski II

Pasien berbaring terlentang. Tungkai yang akan dirangsang difleksikan pada sendi lutut, kemudian tungkai atas diekstensikan pada sendi panggul. Bila timbul gerakan secara reflektorik berupa fleksi tungkai kontralateral pada sendi lutut dan panggul ini menandakan test ini postif.

5. Brudzinski III (Brudzinski’s Check Sign)

Pasien tidur terlentang tekan pipi kiri kanan dengan kedua ibu jari pemeriksa tepat di bawah os ozygomaticum. Bila di susul gerakan reflektorik kedua siku. Dikatakan positif.

6. Brudzinski IV (Brudzinski’s Symphisis Sign)

Pasien tidur terlentang tekan simpisis pubis dengan kebua ibu jari tangan pemeriksaan. Bila timbul fleksi reflektorik kedua sendi lutut dikatan positif.

“Bila salah satu positif maka dikatakan meningeal sign positif meskipun pada pemeriksaan yang lain negatif. Biasanya di mulai dengan pemeriksaan kaku kuduk, bila positif berarti meningeal sign positif (paling peka). Bila negatif maka dapat di konfirmasi dengan pemeriksaan yang lain seperti Kernig, Brudzinski. “

3 komentar: